We meet again

Panas~ Cuaca begitu terik pada akhir bulan Agustus. Semua berjalan pada tempatnya masing-masing.

Aku yang merencanakan keuangan orang lain, kemudian kamu yang tidak aku ketahui keberadaannya.
Dunia seakan berhenti berputar ketika sesosok pria yang cukup lama tidak aku jumpai. Sweater hijau dengan jeans sederhana, sendal jepit yang menempel dengan kokoh di kakimu, kemudian senyum subringah yang terpancar dari bibirmu. Senyum itu hilang tatkala mata kita bertemu pada satu titik, aku yang tidak tau harus bagaimana bersikap hanya menutup mulut pertanda terkejut bertemu lagi dengan si brengsek yang jaketnya sudah aku hilangkan.
Kita berpapasan tanpa bertegur sapa …

We meet again (2)

Awal September masih dengan cuaca terik, tengah hari. Matahari tepat berada di atas kepala ku.

Aku menunggu seseorang teman mengisi bensin.
 Ntah apa dan kenapa ….

Aku melihat kamu lagi, berbeda dari sebelumnya. Ketika itu kamu terlihat rapi, dengan stelan kantor. Aku tidak bisa melihat senyummu lagi karena tertutup oleh masker yang melindungi kamu dari debu jalanan.

Aku melihat matamu, masih seperti dulu, kamu memalingkan muka ketika mata kita bertatapan.
Aku yakin itu kamu ….

Marry and Kiss

“Saya sangat mencintaimu!”Tegas lelaki yang berperawakan tinggi itu, di lanjutkan dengan berkata ” Saya akan menemui orang tuamu dan kita akan menikah.”
Wanita di sampingnya hanya tersenyum seadanya sambil menelisik mata lelaki yang kini di hadapannya, melihat apakah ada kesungguhan di gurat matanya, apakah kebohongan tak nampak pada tatapan matanya.

Kemudian di lanjutkan dengan anggukan oleh wanita itu, tidak ada ekspresi kaget seperti kebanyakan wanita lain ketika di lamar oleh lelaki yang mungkin di cintainya. Sikapnya selalu dingin, ntah senang atau sedih atau mungkin biasa saja. Tidak bisa di tebak jika hanya di lihat dari ekspresi wajahnya kali ini.
Pria di sampingnya tampak bingung melihat wanita di sampignya, yang kenapa tak memeluknya atau menciumnya seperti ekspresi kebanyakan wanita lain yang ketika lelakinya menyatakan hal seperti itu akan bersikap seperti itu.
Lelaki itu tampak termenung, dan keheningan menyelimuti mereka. Hanya rintik hujan yang terdengar mengalun indah. 

Tatapan wanita itu tetap ke depan dan tajam tanpa memperdulikan perasaan kekasih di sampingnya.
Dengan lembut dan pelan lelaki itu memegang tangan wanitanya “Apa kau tidak senang?”

“hmm?” Dengan tatapan datar wanita itu kini memalingkan wajahnya menghadap lelakinya.

“Apa kau tidak senang dengan apa yang aku katakan barusan?” Lelaki itu mempertegas pertanyaannya dengan mata berkaca-kaca.

Lagi-lagi hanya dengan senyuman di balasnya pertanyaan lelaki itu. Lanjutnya “Aku akan benar benar senang, jika ucapanmu itu sudah terjadi, tidak hanya sebuah ucapan belaka.” 
Lelakinya hanya tersenyum melihat wanita yang amat ia cintai itu, sambil menganggukan kepala. “I will promise”

Wanita itu tersenyum, sambil melepaskan genggaman tangan lelakinya dan menatapnya lekat-lekat, kemudian perlahan mendekatkan kepalanya, dan tangannya kini beralih pada leher lelakinya.”Aku juga mencintaimu Choi Minho!” kemudian menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir lelaki yang di cintainya.

Hati juga butuh adaptasi seperti pohon jati 🌱

​Membuka hati tak sama mudahnya dengan membuka pintu rumah.

 
Ketika kita memutuskan untuk membuka celah bagi seseorang, butuh adaptasi. 
Seperti halnya adaptasi fisiologi pada pohon jati. Daun-daunnya berguguran ketika musim kemarau tiba untuk mencegah proses penguapan, di situ hormon absisat berperan. Dengan proses tersebut, pohon dengan nama latin Tectona grandis itu bisa tumbuh dengan gagah tatkala tak ada pemasokan air yang cukup di dalam tanah. Dengan proses tersebut pula, pohon jati bisa tumbuh ratusan tahun dengan kualitas kayu yang terbaik.

Sama halnya dengan hati. Butuh adaptasi ketika seseorang masuk ke dalamnya. Agar ketika hubungan tak selalu berjalan mulus maka hati tetap kuat dan tetap tumbuh dengan kokoh, dan bertahan hingga ratusan tahun atau bahkan seumur hidup dengan kualitas yang terbaik pula. 
-Nuriya-


Kadang cinta melumpuhkan logika

sarang

Tidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia seperti saat ketika ia sedang jatuh cinta.

Bukan karena dunia sekeliling yang berubah pada kenyataannya. Tapi saat-saat jatuh cintalah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia.

Itulah mengapa taj mahal terukir, bukti cinta suami pada istrinya.
Itulah mengapa tembok cina berdiri kokoh,  bukti cinta bangsa cina pada negaranya.

Kadang cinta melumpuhkan logika …

Begitupun kecintaan hamba pada Tuhannya …

Jika tak begitu, mana mungkin rasulullah SAW rela kakinya bengkak karena setiap malam berkhalwat dengan Allah padahal surga telah dijaminkan untuknya.

Itulah cinta …
Tak selalu butuh alasan yang logis.
Tidak selalu karena pasangan yang kita cintai itu memang cantik atau tampan pada kenyataannya.
Tapi cinta kita padanya yang membuatnya cantik atau tampan dimata kita.

Itulah cinta …
Ia memberikan rasa terdalam karena satu alasan : CINTA
Dalam ketidaksempurnaannya, timbul jiwa pahlawan dalam diri kita untuk menerima dengan ikhlas segala kekurangan.